Bincang Cyber

Bincang Cyber


DDoS dan Sekilas Arsitektur Cloud

June 28, 2020

Peningkatan trafik Internet yang di alami suatu situs mungkin belum bisa di artikan positif. Kebanyakan kasus yang marak terjadi belakangan ini adalah peningkatan trafik yang tiba-tiba di sebabkan atas serangan dari berbagai sumber yang terjadi secara bersamaan. Serangan yang tiba-tiba ini di artikan sebagai serangan yang terkoordinasi. Ratusan hingga ribuan sumber IP address mengirimkan trafik dalam jumlah besar sehingga menimbulkan target IP address kehilangan banyak Internet bandwidth sehingga tidak mampu untuk memberikan respon atas trafik yang legitimate. Serangan ini diberikan nama Distributed Denial of Service Attack, atau di singkat dengan istilah DDoS. Bahkan dalam situasi pandemic Covid-19 seperti sekarang ini, semakin intens di temukan serangan DDoS ini terjadi di beberapa lokasi. Tidak ada system yang di retas ataupun data yang di curi dalam model serangan DDoS ini. Tujuan utama dari model serangan ini adalah memberikan dampak gangguan sehingga fungsi layanan online atau website dari penyedia jasa layanan terkendala untuk beroperasi. Serangan ini di lancarkan secara intens dan dalam durasi waktu yang cukup lama sehingga terkesan website menjadi offline. Tentunya ini akan terjadi bilamana penyerang berhasil memberikan trafik sebesar dengan bandwidth maksimal yang di miliki penyedia jasa layanan dan tidak ada bandwidth yang cukup tersedia untuk pelanggan lainnya. Ini bukan merupakan satu-satunya cara penyerang dalam kaitan dengan DDoS attack, namun belakangan ini merupakan hal yang cukup sering di lakukan.

Sejarah DDoS

Sebelum di sebut dengan istilah DDoS, istilah ini pertama kali di kenal dengan sebuat Denial of Service attack atau DoS. Huruf ‘D’ atau ‘Distributed’ yang kemudian ditambahkan disini melambangkan serangan yang di lakukan secara terkoordinasi namun terpecah. Berawal pada tahun 1974, David Dennis, seorang anak yang berusia 13 tahun tinggal di dekat sebuah laboratorium yang bernama Computer-Based Education Research Laboratory (CERL) yang memiliki sebuah unit komputer yang diberi nama PLATO. Komputer ini memiliki kemampuan untuk terhubung dengan perangkat external devices. Dan instruksi program untuk ini juga tersedia yang memungkinkan pengembangan lebih lanjut. Dennis menemukan sebuah cacat dari program tersebut, yang dapat menyebabkan PLATO menjadi crash dan perlu untuk di restart sebelum dapat kembali melayani user yang terkoneksi. Menyadari akan hal ini, Dennis kemudian mengembangkan program yang memanfaatkan celah kelemahan ini sehingga berhasil menjadikan system PLATO di power-off sehingga merepotkan 31 user yang saat itu sedang terhubung. Dalam kasus ini, serangan yang di lakukan oleh Dennis adalah menyerang availabilitas dari PLATO, meski tidak merusak data-data yang tersimpan. Inilah inti dari serangan DoS attack.

Tidak hanya berhenti pada kasus David Dennis ini, pada Agustus 1999 terjadi serangan DoS pada University of Minnesota. Serangan yang di lakukan oleh hacker ini mempergunakan tool yang di sebut ’Trinoo’ yang menyebabkan menciptakan gangguan pada target IP dengan membanjiri jaringan dengan paket UDP yang bersumber dari berbagai perangkat yang di kelompokkan dengan istilah ‘Master’ dan ‘Daemon’. Hal ini merupakan awal dari penambahan kata Distributed pada DoS attack, sehingga kemudian lebih sering di kenal dengan sebutan DDoS. 

Distributed Denial of Service attack atau di singkat dengan DDoS attack memiliki beberapa jenis kategori. Salah satunya yang baru saja saya sebutkan tadi. Pada episode ke 30 ini saya akan juga menjelaskan beberapa jenis kategori lainnya. Untuk bisa memahami secara lebih dalam terhadap kategori ini, kita perlu sejenak kembali kepada definisi bahwa komunikasi di Internet secara konseptual terjadi melalui 7 tahapan, yang kemudian di sebut dengan istilah Seven Layer OSI. Hal ini mengingatkan saya pada materi komunikasi data saat sedang mengambil S1 dulu.